Kabupaten Balangan
Kabupaten Balangan merupakan kabupaten pemekaran dari
Kabupaten Hulu Sungai Utara yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 2
Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Balangan di
Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan undang-undang tersebut, Menteri Dalam
Negeri Hari Sabarno meresmikan Kabupaten Balangan pada tanggal 8 April 2003
yang kemudian menjadi hari jadi yang dirayakan setiap tahunnya. Motto Kabupaten
Balangan adalah "Sanggam": "Sanggup Bagawi Gasan Masyarakat“
yang artinya Kesanggupan melaksanakan pekerjaan (pembangunan) yang didasari
oleh keikhlasan untuk masyarakat.
Kecamatan
Kabupaten balangan memiliki
beberapa kecamatan yang terkenal dengan ciri khas masing-masing, yaitu :
·
Lampihong yang terkenal dengan gula merah
·
Paringin yang terkenal dengan tugu pahlawan
·
Paringin Selatan yang terkenal dengan Mesjid Al Akbar
·
Batumandi yang terkenal dengan buah cempedak dan papakin
·
Juai yang terkenal dengan labu atau waluh
·
Halong yang terkenal dengan buah pisang
·
Awayan yang terkenal dengan benteng tundakan
·
Dan Tebing Tinggi yang terkenal dengan gunung hantanung
Perhubungan
Untuk
mencapai kabupaten Balangan dapat ditempuh dengan beberapa cara, misalnya
melalui jalan darat dengan waktu tempuh lebih kurang 5 jam menuju utara dari ibukota
provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu bisa juga dengan pesawat udara dari
bandara Syamsuddin Noor di Banjarbaru dengan tujuan penerbangan ke bandara
Warukin di Tanjung, kemudian dari Tanjung ke Paringin melalui jalan darat.
Dengan cara ini, waktu tempuh hanya 2 jam dengan biaya yang tentunya sedikit
lebih mahal. Jika sedikit ingin bertualang, bisa juga dengan menempuh jalan
sungai, dari sungai mana saja di provinsi Kalimantan Selatan. Untuk menempuh
jalan sungai ini, sangat disarankan untuk melengkapi diri dengan peta navigasi
dan peralatan GPS.
Pertanian
Potensi areal tanaman pangan hortikultura di Kabupaten Balangan adalah padi, kacang,
kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, langsat, jagung,
pisang kepok dan pisang serta talas dengan luas areal 1.350 ha, produktivitasnya
adalah 1,6 ton/ha.
Perikanan
Perikanan yang dapat
dikembangkan di kabupaten Balangan di sepanjang aliran sungai Balangan adalah cekdam,
baruh (rawa) serta kolam tadah hujan. Komoditas yang dikembangkan antara
lain ikan patin, mas dan nila. Budidaya perikanan yang akan dikembangkan untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat dan ekspor adalah ikan betutu yang
terdapat di kecamatan Paringin (Baruh Bahinu Dalam).
Perkebunan
Jenis komoditas yang
berpotensi untuk dikembangkan antara lain:
Karet dengan luas areal tanam
30.591 ha dengan hasil produksi 24.342,31 ton/tahun.
Kelapa sawit dengan luas
areal tanam 2.280 ha dengan hasil produksi 14.898 ton/tahun.
Peternakan
Peternakan yang ada di daerah ini adalah sapi, kambing,
domba, ayam ras/pedaging, ayam buras dan itik.
Pertambangan
Potensi pertambangan yang tersedia di
Kabupaten Balangan adalah marmer, phospat, kaolin, gambut, lempung, emas, batu
gamping dan batu bara. Pertambangan yang tersedia
untuk dikembangkan adalah bijih besi.
Obyek Wisata Yang Ada Di
Paringin Kabupaten Balangan
Kabupaten Balangan
dengan ibukota Paringin memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan
sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata
Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial
untuk dikembangkan.
Wisata Alam
Gunung Batu Hantanung di
Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan, cukup populer sebagai tujuan rekreasi bagi
warga setempat. Wisata alam ini menawarkan keindahan khas gunung batu lengkap
dengan stalaktit dan stalaknitnya. Terletak di Desa Sumsum sekitar 6 km dari ibukota kecamatan, selain Gunung Batu Hantanung, sekitar 100 meter terdapat sebuah gunung yang bisa dinikmati dari atas jembatan. Di bawahnya mengalir sungai dengan air bening berjeram. Panorama alam sekitar gunung ini nampak asri, indah dan sejuk.
Gunung Batu Hantanung adalah sebuah gunung batu kapur
berongga-rongga, dengan ketinggian sekitar 100 meter. Di bagian puncaknya
ditumbuhi berbagai jenis tanaman, yang sebagian menjulur ke bawah seperti
tirai. Di depan gunung ini, pengunjung dapat menikmati hawa sejuk yang
berhembus dari rongga-rongga gunung batu itu. Dari stalaktit (batu yang
menggantung) air tak pernah berhenti menetes. Dari taman sekitar gunung,
pengunjung juga bisa menikmati beningnya air yang mengalir di bawahnya. Desa
Sumsum Kecamatan Awayan sebagai tujuan wisata sangat mudah dijangkau. Dari
ibukota kabupaten ke Awayan sekitar 13 km bisa ditempuh dengan angkutan colt
pikap atau mikrolet ke Kecamatan Awayan. Sesuai geografi wilayah menuju lokasi
yang merupakan pegunungan berbatu, perjalanan didominasi pemandangan alam pegunungan,
dengan jalan beraspal yang berkelok-kelok.
Air Terjun Manyandar di Desa Aniungan Kecamatan Halong
Obyek wisata ini terletak di desa Anjungan, 27 km
dari ibukota Kabupaten Balangan. Selain air terjun manyandar juga dapat
dinikmati pemandangan dari puncak gunung. Untuk mencapai lokasi air terjun
dibutuhkan fisik yang prima, karna pengunjung harus melewati belukar, hutan dan
bukit yang mendaki.
Gunung Hauk di Desa Ajung
Kecamatan Tebing Tinggi
Gunung hauk mempunyai daya tarik
luar biasa, sebagai bagian dari pegunungan meratus meski bukan yang tertinggi
di Kalimantan Selatan namun di Kabupaten Balangan gunung hauk adalah yang
tertinggi. Ketinggiannya mencapai 1.325 mdpl. Bagi masyarakat desa Ajung
kecamatan Tebing Tinggi kabupaten Balangan dimana gunung ini berada dan
masyarakat Dayak Pitap Gunung ini adalah gunung yang disakralkan. Di puncak
gunung inilah perletakan segala nadjar mereka, meletakan harapan dan sebagainya
demi kemaslahatan hidup mereka.
Wisata Religius
Makam Datuk Kandang Haji
Salah satu tradisi warga
Balangan pada saat lebaran adalah berziarah ke makam Datuk Kandang Haji yang
terdapat di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Juai. Datu Kandang Haji adalah salah
seorang dari dua orang datu (satunya lagi Datu Sanggul dibagian Selatan
Banjarmasin, Tatakan Rantau dan sekitarnya) yang aktif berdakwah, mengajar
masyarakat mengaji Alquran dan menghidupkan pelaksanaan shalat Jumat di bagian
Utara Banjarmasin (Paringin dan sekitarnya). Beliau wafat dengan meninggalkan
Alquran tulisan tangan, sepasang terompah, dan tongkat untuk berkhutbah. Makam
beliau terletak di samping masjid yang didirikannya di Paringin (Kabupaten
Balangan sekarang)”. Datu Kandang Haji hidup sezaman dengan Datu Sanggul
(Rantau) yang wafat pada tahun 1772 M, karena itu, besar kemungkinan Datu
Kandang Haji hidup di era tahun 1760-an dan tahun-tahun sebelumnya.
Datu Kandang Haji aktif
menyebarkan Islam di Paringin dan sekitarnya, beliau menyebarkan dan
mengajarkan Islam kepada masyarakat Paringin, mengajar mereka mengaji atau
membaca Alquran, membimbing kegiatan keagamaan masyarakat (terutama khutbah
Jumat), menyalin Alquran, serta memotivasi masyarakat untuk melaksanakan ajaran
Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan baik, beliau juga menjadi pelopor bagi
masyarakat untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat.
Mesjid Al Akbar Kecamatan Paringin Selatan

Wisata Sejarah
Benteng Tundakan


Dari sekian banyak peninggalan
sejarah perjuangan Pangeran Antasari, salah satunya adalah benteng Tundakan.
Benteng bersejarah ini berada di kawasan terpencil, tepatnya di Desa Tundakan
Kecamatan Awayan. Benteng Tundakan merupakan salah satu kawasan yang digunakan
pejuang sekitar 1858 hingga 1861. Selain itu, bentuk benteng Tundakan tidak
sebagaimana yang dibayangkan orang. Tetuha masyarakat di daerah biasa menyebut
nama benteng itu dengan istilah "Benteng Tundakan". Bagi penduduk di
daerah ini, cerita tentang keberadaan benteng Tundakan sudah tidak asing lagi.
Karena masih banyak tetuha masyarakat di daerah ini yang mengetahui tentang
sejarah keberadaan benteng Tundakan tersebut.
Konon, benteng Tundakan
merupakan salah kawasan yang digunakan para pejuang kemerdekaan. Bahkan benteng
Tundakan pernah dijadikan kawasan pertahanan oleh tokoh pejuang Kalsel Pangeran
Antasari. Benteng tersebut sempat digunakan oleh para pejuang kemerdekaan
sekitar tahun 1858 hingga 1861. Pangeran Antasari bersama pejuang kemerdekaan
lainnya seperti Temanggung Jalil pernah menempati benteng tersebut. Pada waktu
itu, Pangeran Antasari merupakan tokoh pejuang kemerdekaan yang dicari-cari
tentara Belanda. Dan untuk menghindari dari adanya upaya penangkapan yang
dilakukan tentara Belanda, Pangeran Antasari kemudian bersembunyi di kawasan
Benteng Tundakan.
Keberadaan Benteng Tundakan sempat diketahui tentara Belanda. Hingga akhirnya, benteng tersebut diserang ratusan tentara Belanda sekitar. Dalam penyerangan tersebut, Temanggung Jalil gugur, jasatnya dimakamkan tidak jauh dari kawasan Benteng Tundakan. Untuk mengenang tokoh pejuang kemerdekaan tersebut, Pemkab HSU mengharumkan nama Temanggung Jalil menjadi salah satu nama ruas jalan yang ada di kota Amuntai. Kalau dilihat sepintas lalu, Benteng Tundakan tidak berbentuk sebagaimana benteng pertahanan untuk perang. Karena benteng tersebut terletak di suatu kawasan pegunungan. Selain itu, bentuk benteng Tundakan hanyalah berupa sebuah gua di bebatuan yang berlubang. Namun di dalam goa itulah, para pejuang berusaha untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan penjajah kolonial Belanda.
Bukti sejarah perjuangan di benteng Tundakan tersebut hingga kini masih tetap dikenang. Walau saat ini yang terlihat hanyalah sebuah bentuk goa yang ditumbuhi rumput liar, namun apa yang dilakukan para pejuang kemerdekaan tentunya akan selalu tetap dikenang.
Keberadaan Benteng Tundakan sempat diketahui tentara Belanda. Hingga akhirnya, benteng tersebut diserang ratusan tentara Belanda sekitar. Dalam penyerangan tersebut, Temanggung Jalil gugur, jasatnya dimakamkan tidak jauh dari kawasan Benteng Tundakan. Untuk mengenang tokoh pejuang kemerdekaan tersebut, Pemkab HSU mengharumkan nama Temanggung Jalil menjadi salah satu nama ruas jalan yang ada di kota Amuntai. Kalau dilihat sepintas lalu, Benteng Tundakan tidak berbentuk sebagaimana benteng pertahanan untuk perang. Karena benteng tersebut terletak di suatu kawasan pegunungan. Selain itu, bentuk benteng Tundakan hanyalah berupa sebuah gua di bebatuan yang berlubang. Namun di dalam goa itulah, para pejuang berusaha untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan penjajah kolonial Belanda.
Bukti sejarah perjuangan di benteng Tundakan tersebut hingga kini masih tetap dikenang. Walau saat ini yang terlihat hanyalah sebuah bentuk goa yang ditumbuhi rumput liar, namun apa yang dilakukan para pejuang kemerdekaan tentunya akan selalu tetap dikenang.
Wisata Adat / Wisata Budaya
Aruh Baharin
Upaya mempertahankan metode pertanian tradisional dan bibit
lokal ternyata masih ada, kendati dilakukan secara terbatas. Itulah yang
tercermin dari penyelenggaraan pesta adat syukuran panen padi Aruh Baharin yang
dilaksanakan di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan
Selatan. Selama tujuh hari, Masyarakat Adat Dayak Desa Kapul, menyelenggarakan
perayaan Aruh Baharin yang diselenggarakan setiap tiga atau lima tahun sekali. Perayaan
ini bertujuan untuk melestarikan budaya pertanian dan bercocok tanam padi
organik yang dilakukan oleh masyarakat adat Dayak sejak ratusan tahun yang
silam. Seperti telah diketahui bahwa secara turun-temurun masyarakat Dayak
mengembangkan pertanian organik, khususnya padi, tanpa menggunakan pupuk dan
pestisida kimiawi. Pertanian organik yang dianggap mencerminkan budaya
tradisional dan keterbelakangan, saat ini justru dinilai sebagai sistem
pertanian yang sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan dan lingkungan hidup.
Pesta adat tersebut dimeriahkan
dengan tarian ritual yang diberi nama Batandik untuk mengekspresikan rasa
bersyukur dan keagungan penguasa alam dengan mempersembahkan identitas
kebudayaan dan kehidupan mereka berupa perahu naga dan rumah adat Dayak Balangan.
Dua miniatur perahu dan rumah adat tersebut kemudian dihanyutkan ke Sungai
Balangan. Selama tujuh hari tujuh malam masyarakat yang ikut dalam pesta adat
tersebut dapat menikmati makanan khas adat Dayak Balangan dan memotong hewan
kurban.
Tarian Gintor dan Wadian Balian
Balian adalah sebutan upacara
pengobatan pada Suku Dayak Kecamatan Halong Kabupaten Balangan (bagian dari
Suku Dayak Maanyan) di Kabupaten Balangan dan Suku Dayak Bukit di Kalimantan
Selatan. Suku Dayak Balangan memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini
dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian. Bagi
masyarakat Suku Dayak, khususnya di wilayah pedalaman, komunikasi dengan roh
leluhur menjadi salah satu ritual untuk menjaga keseimbangan dengan alam.
Komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan ritual khusus yang bisa dilakukan
oleh orang-orang khusus. Keseimbangan itu akan tercapai manakala komunikasi
dengan lingkungan, tidak terputus. Bahkan komunitas masyarakat Suku Dayak juga
memercayai bahwa keseimbangan alam akan masih sangat terjaga ketika roh leluhur
ikut menjaganya.
Masyarakat Suku Dayak mengenal
balian saat akan melakukan komunikasi dengan roh-roh leluhur. Biasanya saat
berkaitan dengan ritual penyembuhan penyakit, ritual untuk membersihkan kampung
dari berbagai kemungkinan petaka, atau berbagai keperluan lainnya. Balian juga
menjadi perantara hubungan antara pihak yang memerlukan bantuan untuk diobati
atau keperluan lainnya dengan roh-roh leluhur yang dipanggil dalam kaitannya
dengan ritual tersebut, sehingga keperluan untuk ritual itu bisa berjalan
sesuai harapan. Ritual yang dilakukan balian biasanya menggunakan media berupa
tarian dan atau gerakan-gerakan serta bunyi-bunyian tetabuhan dan peralatan
musik pengiring tarian yang dimainkan oleh para pemain musik dalam ritual
tersebut. Karena itu, ritual tersebut sangat akrab dengan kehidupan masyarakat
Suku Dayak di wilayah pedalaman. Lebih-lebih untuk tetap menjaga keseimbangan
alam dan berbagai pola kehidupan yang berlangsung di dunia fana ini. Balian
juga menjadi bagian dari sebuah ritual dan bertindak sebagai pawang atau basir
(perantara adat, Red) yang memiliki kemampuan untuk menjaga komunikasi dengan
dunia leluhur sehingga keseimbangan dapat terus terjaga dan terbina langgeng. Keseimbangan
antara kehidupan fana dan dunia para leluhur akan dapat terjaga manakala dua
dunia yang berlainan itu dapat saling menjaga keseimbangan. Sejauh ini, manusia
menjaga alam dan ritual leluhur dan leluhur pun akan menjaga keseimbangan alam
tempat manusia hidup.
Upacara Adat Mambatur Suku Dayak
Halong
Biasanya, warga Dayak mengantar
roh leluhurnya dengan perantaraan hewan kerbau. Hewan berkaki empat ini dibunuh
dengan cara ditombak. Sepintas, acara ini serupa dengan acara adat Mambuntang
atau Wara Nyalimbat di Tamiang Layang Kalteng. Selain di Halong dayak Warukin,
Tabalong ada juga upacara kematian disebut Mia atau Mambatur, yaitu membuat
tanda kubur dari kayu ulin. Ritual tersebut memiliki beberapa tingkatan, antara
lain berdasarkan lamanya waktu dan pembiayaan. Upacara menguburkan satu hari
disebut ngatang, yaitu membuat kubur satu tingkat. Dalam kaitan ini, ada
tradisi siwah pada hari ke-40 setelah kematian. Pembuatan batur satu tingkat
ini disebut juga wara atau mambatur kecil. Proses mambatur ada pula yang
dijalankan selama lima hari disertai dengan pengorbanan kerbau dan pendirian
balontang, yakni patung si warga yang meninggal. Prosesi itu biasanya
dilaksanakan dengan mengundang semua warga.
Sebagai kelanjutan "mambatur" biasanya dilangsungkan mambuntang sebagai upacara terakhir. Kepala Adat Desa Warukin Rumbun mengatakan, aruh mambuntang yang sederhana disebut buntang pujamanta. Ritual ini hanya mengorbankan kambing, babi, dan ayam. Untuk ritual yang lebih “bergengsi”, buntang pujamea diwarnai dengan pengorbanan kerbau. Perbedaan antara mambatur dan balontang adalah dari segi mantra dan balian atau rohaniwan Kaharingan yang melaksanakannya. Perbedaan lain, patung balontang diarahkan ke barat sebagai simbol arah alam kematian, sedangkan pada mambuntang patung diarahkan ke timur sebagai simbol kehidupan.
Sebagai kelanjutan "mambatur" biasanya dilangsungkan mambuntang sebagai upacara terakhir. Kepala Adat Desa Warukin Rumbun mengatakan, aruh mambuntang yang sederhana disebut buntang pujamanta. Ritual ini hanya mengorbankan kambing, babi, dan ayam. Untuk ritual yang lebih “bergengsi”, buntang pujamea diwarnai dengan pengorbanan kerbau. Perbedaan antara mambatur dan balontang adalah dari segi mantra dan balian atau rohaniwan Kaharingan yang melaksanakannya. Perbedaan lain, patung balontang diarahkan ke barat sebagai simbol arah alam kematian, sedangkan pada mambuntang patung diarahkan ke timur sebagai simbol kehidupan.
0 komentar:
Posting Komentar