Selasa, 26 April 2016

Kabupaten Balangan

0

Kabupaten Balangan
Kabupaten Balangan merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan undang-undang tersebut, Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno meresmikan Kabupaten Balangan pada tanggal 8 April 2003 yang kemudian menjadi hari jadi yang dirayakan setiap tahunnya. Motto Kabupaten Balangan adalah "Sanggam": "Sanggup Bagawi Gasan Masyarakat“ yang artinya Kesanggupan melaksanakan pekerjaan (pembangunan) yang didasari oleh keikhlasan untuk masyarakat.
Kecamatan
Kabupaten balangan memiliki beberapa kecamatan yang terkenal dengan ciri khas masing-masing, yaitu :
·         Lampihong yang terkenal dengan gula merah
·         Paringin yang terkenal dengan tugu pahlawan
·         Paringin Selatan yang terkenal dengan Mesjid Al Akbar
·         Batumandi yang terkenal dengan buah cempedak dan papakin
·         Juai yang terkenal dengan labu atau waluh
·         Halong yang terkenal dengan buah pisang
·         Awayan yang terkenal dengan benteng tundakan
·         Dan Tebing Tinggi yang terkenal dengan gunung hantanung
Perhubungan
Untuk mencapai kabupaten Balangan dapat ditempuh dengan beberapa cara, misalnya melalui jalan darat dengan waktu tempuh lebih kurang 5 jam menuju utara dari ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu bisa juga dengan pesawat udara dari bandara Syamsuddin Noor di Banjarbaru dengan tujuan penerbangan ke bandara Warukin di Tanjung, kemudian dari Tanjung ke Paringin melalui jalan darat. Dengan cara ini, waktu tempuh hanya 2 jam dengan biaya yang tentunya sedikit lebih mahal. Jika sedikit ingin bertualang, bisa juga dengan menempuh jalan sungai, dari sungai mana saja di provinsi Kalimantan Selatan. Untuk menempuh jalan sungai ini, sangat disarankan untuk melengkapi diri dengan peta navigasi dan peralatan GPS.
Pertanian
Potensi areal tanaman pangan hortikultura di Kabupaten Balangan adalah padi, kacang, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, langsat, jagung, pisang kepok dan pisang serta talas dengan luas areal 1.350 ha, produktivitasnya adalah 1,6 ton/ha.

Perikanan

Perikanan yang dapat dikembangkan di kabupaten Balangan di sepanjang aliran sungai Balangan adalah cekdam, baruh (rawa) serta kolam tadah hujan. Komoditas yang dikembangkan antara lain ikan patin, mas dan nila. Budidaya perikanan yang akan dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan ekspor adalah ikan betutu yang terdapat di kecamatan Paringin (Baruh Bahinu Dalam).

 

Perkebunan

Jenis komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan antara lain:

Karet dengan luas areal tanam 30.591 ha dengan hasil produksi 24.342,31 ton/tahun.

Kelapa sawit dengan luas areal tanam 2.280 ha dengan hasil produksi 14.898 ton/tahun.

Peternakan
Peternakan yang ada di daerah ini adalah sapi, kambing, domba, ayam ras/pedaging, ayam buras dan itik.

Pertambangan

Potensi pertambangan yang tersedia di Kabupaten Balangan adalah marmer, phospat, kaolin, gambut, lempung, emas, batu gamping dan batu bara. Pertambangan yang tersedia untuk dikembangkan adalah bijih besi.


Obyek Wisata Yang Ada Di Paringin Kabupaten Balangan

Kabupaten Balangan dengan ibukota Paringin memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.


Wisata Alam
Gunung Batu Sumsum dan Goa Hantanung di Kecamatan Awayan
Description: C:\Users\Noorhikmah\Pictures\gunung_hantanung.jpgGunung Batu Hantanung di Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan, cukup populer sebagai tujuan rekreasi bagi warga setempat. Wisata alam ini menawarkan keindahan khas gunung batu lengkap dengan stalaktit dan stalaknitnya.
Terletak di Desa Sumsum sekitar 6 km dari ibukota kecamatan, selain Gunung Batu Hantanung, sekitar 100 meter terdapat sebuah gunung yang bisa dinikmati dari atas jembatan. Di bawahnya mengalir sungai dengan air bening berjeram. Panorama alam sekitar gunung ini nampak asri, indah dan sejuk.
Gunung Batu Hantanung adalah sebuah gunung batu kapur berongga-rongga, dengan ketinggian sekitar 100 meter. Di bagian puncaknya ditumbuhi berbagai jenis tanaman, yang sebagian menjulur ke bawah seperti tirai. Di depan gunung ini, pengunjung dapat menikmati hawa sejuk yang berhembus dari rongga-rongga gunung batu itu. Dari stalaktit (batu yang menggantung) air tak pernah berhenti menetes. Dari taman sekitar gunung, pengunjung juga bisa menikmati beningnya air yang mengalir di bawahnya. Desa Sumsum Kecamatan Awayan sebagai tujuan wisata sangat mudah dijangkau. Dari ibukota kabupaten ke Awayan sekitar 13 km bisa ditempuh dengan angkutan colt pikap atau mikrolet ke Kecamatan Awayan. Sesuai geografi wilayah menuju lokasi yang merupakan pegunungan berbatu, perjalanan didominasi pemandangan alam pegunungan, dengan jalan beraspal yang berkelok-kelok.
Description: C:\Users\Noorhikmah\Pictures\contoh5.jpgAir Terjun Manyandar di Desa Aniungan Kecamatan Halong
Obyek wisata ini terletak di desa Anjungan, 27 km dari ibukota Kabupaten Balangan. Selain air terjun manyandar juga dapat dinikmati pemandangan dari puncak gunung. Untuk mencapai lokasi air terjun dibutuhkan fisik yang prima, karna pengunjung harus melewati belukar, hutan dan bukit yang mendaki.



Description: D:\Photos\Adventure\Puncak Hauk 11 januari 2015\20150112_063706.jpgGunung Hauk di Desa Ajung Kecamatan Tebing Tinggi
Gunung hauk mempunyai daya tarik luar biasa, sebagai bagian dari pegunungan meratus meski bukan yang tertinggi di Kalimantan Selatan namun di Kabupaten Balangan gunung hauk adalah yang tertinggi. Ketinggiannya mencapai 1.325 mdpl. Bagi masyarakat desa Ajung kecamatan Tebing Tinggi kabupaten Balangan dimana gunung ini berada dan masyarakat Dayak Pitap Gunung ini adalah gunung yang disakralkan. Di puncak gunung inilah perletakan segala nadjar mereka, meletakan harapan dan sebagainya demi kemaslahatan hidup mereka.

Wisata Religius
Description: C:\Users\Noorhikmah\Pictures\contoh9.jpgMakam Datuk Kandang Haji
Salah satu tradisi warga Balangan pada saat lebaran adalah berziarah ke makam Datuk Kandang Haji yang terdapat di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Juai. Datu Kandang Haji adalah salah seorang dari dua orang datu (satunya lagi Datu Sanggul dibagian Selatan Banjarmasin, Tatakan Rantau dan sekitarnya) yang aktif berdakwah, mengajar masyarakat mengaji Alquran dan menghidupkan pelaksanaan shalat Jumat di bagian Utara Banjarmasin (Paringin dan sekitarnya). Beliau wafat dengan meninggalkan Alquran tulisan tangan, sepasang terompah, dan tongkat untuk berkhutbah. Makam beliau terletak di samping masjid yang didirikannya di Paringin (Kabupaten Balangan sekarang)”. Datu Kandang Haji hidup sezaman dengan Datu Sanggul (Rantau) yang wafat pada tahun 1772 M, karena itu, besar kemungkinan Datu Kandang Haji hidup di era tahun 1760-an dan tahun-tahun sebelumnya.
Datu Kandang Haji aktif menyebarkan Islam di Paringin dan sekitarnya, beliau menyebarkan dan mengajarkan Islam kepada masyarakat Paringin, mengajar mereka mengaji atau membaca Alquran, membimbing kegiatan keagamaan masyarakat (terutama khutbah Jumat), menyalin Alquran, serta memotivasi masyarakat untuk melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan baik, beliau juga menjadi pelopor bagi masyarakat untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat.
Mesjid Al Akbar Kecamatan Paringin Selatan
Description: D:\Kuliah\Semester 6\Teknik Presentasi\DSC_0009.JPG

Wisata Sejarah
Benteng Tundakan
Description: D:\Kuliah\Semester 6\Teknik Presentasi\images (2).jpgDescription: D:\Kuliah\Semester 6\Teknik Presentasi\images (1).jpg
Dari sekian banyak peninggalan sejarah perjuangan Pangeran Antasari, salah satunya adalah benteng Tundakan. Benteng bersejarah ini berada di kawasan terpencil, tepatnya di Desa Tundakan Kecamatan Awayan. Benteng Tundakan merupakan salah satu kawasan yang digunakan pejuang sekitar 1858 hingga 1861. Selain itu, bentuk benteng Tundakan tidak sebagaimana yang dibayangkan orang. Tetuha masyarakat di daerah biasa menyebut nama benteng itu dengan istilah "Benteng Tundakan". Bagi penduduk di daerah ini, cerita tentang keberadaan benteng Tundakan sudah tidak asing lagi. Karena masih banyak tetuha masyarakat di daerah ini yang mengetahui tentang sejarah keberadaan benteng Tundakan tersebut.
Konon, benteng Tundakan merupakan salah kawasan yang digunakan para pejuang kemerdekaan. Bahkan benteng Tundakan pernah dijadikan kawasan pertahanan oleh tokoh pejuang Kalsel Pangeran Antasari. Benteng tersebut sempat digunakan oleh para pejuang kemerdekaan sekitar tahun 1858 hingga 1861. Pangeran Antasari bersama pejuang kemerdekaan lainnya seperti Temanggung Jalil pernah menempati benteng tersebut. Pada waktu itu, Pangeran Antasari merupakan tokoh pejuang kemerdekaan yang dicari-cari tentara Belanda. Dan untuk menghindari dari adanya upaya penangkapan yang dilakukan tentara Belanda, Pangeran Antasari kemudian bersembunyi di kawasan Benteng Tundakan.
Keberadaan Benteng Tundakan sempat diketahui tentara Belanda. Hingga akhirnya, benteng tersebut diserang ratusan tentara Belanda sekitar. Dalam penyerangan tersebut, Temanggung Jalil gugur, jasatnya dimakamkan tidak jauh dari kawasan Benteng Tundakan. Untuk mengenang tokoh pejuang kemerdekaan tersebut, Pemkab HSU mengharumkan nama Temanggung Jalil menjadi salah satu nama ruas jalan yang ada di kota Amuntai. Kalau dilihat sepintas lalu, Benteng Tundakan tidak berbentuk sebagaimana benteng pertahanan untuk perang. Karena benteng tersebut terletak di suatu kawasan pegunungan. Selain itu, bentuk benteng Tundakan hanyalah berupa sebuah gua di bebatuan yang berlubang. Namun di dalam goa itulah, para pejuang berusaha untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan penjajah kolonial Belanda.
Bukti sejarah perjuangan di benteng Tundakan tersebut hingga kini masih tetap dikenang. Walau saat ini yang terlihat hanyalah sebuah bentuk goa yang ditumbuhi rumput liar, namun apa yang dilakukan para pejuang kemerdekaan tentunya akan selalu tetap dikenang.

Wisata Adat / Wisata Budaya
Aruh Baharin
Description: D:\Kuliah\Semester 6\Teknik Presentasi\images (4).jpgUpaya mempertahankan metode pertanian tradisional dan bibit lokal ternyata masih ada, kendati dilakukan secara terbatas. Itulah yang tercermin dari penyelenggaraan pesta adat syukuran panen padi Aruh Baharin yang dilaksanakan di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Selama tujuh hari, Masyarakat Adat Dayak Desa Kapul, menyelenggarakan perayaan Aruh Baharin yang diselenggarakan setiap tiga atau lima tahun sekali. Perayaan ini bertujuan untuk melestarikan budaya pertanian dan bercocok tanam padi organik yang dilakukan oleh masyarakat adat Dayak sejak ratusan tahun yang silam. Seperti telah diketahui bahwa secara turun-temurun masyarakat Dayak mengembangkan pertanian organik, khususnya padi, tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi. Pertanian organik yang dianggap mencerminkan budaya tradisional dan keterbelakangan, saat ini justru dinilai sebagai sistem pertanian yang sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan dan lingkungan hidup.
Pesta adat tersebut dimeriahkan dengan tarian ritual yang diberi nama Batandik untuk mengekspresikan rasa bersyukur dan keagungan penguasa alam dengan mempersembahkan identitas kebudayaan dan kehidupan mereka berupa perahu naga dan rumah adat Dayak Balangan. Dua miniatur perahu dan rumah adat tersebut kemudian dihanyutkan ke Sungai Balangan. Selama tujuh hari tujuh malam masyarakat yang ikut dalam pesta adat tersebut dapat menikmati makanan khas adat Dayak Balangan dan memotong hewan kurban.
Description: D:\Kuliah\Semester 6\Teknik Presentasi\images (6).jpgTarian Gintor dan Wadian Balian
Balian adalah sebutan upacara pengobatan pada Suku Dayak Kecamatan Halong Kabupaten Balangan (bagian dari Suku Dayak Maanyan) di Kabupaten Balangan dan Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan. Suku Dayak Balangan memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian. Bagi masyarakat Suku Dayak, khususnya di wilayah pedalaman, komunikasi dengan roh leluhur menjadi salah satu ritual untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan ritual khusus yang bisa dilakukan oleh orang-orang khusus. Keseimbangan itu akan tercapai manakala komunikasi dengan lingkungan, tidak terputus. Bahkan komunitas masyarakat Suku Dayak juga memercayai bahwa keseimbangan alam akan masih sangat terjaga ketika roh leluhur ikut menjaganya.
Masyarakat Suku Dayak mengenal balian saat akan melakukan komunikasi dengan roh-roh leluhur. Biasanya saat berkaitan dengan ritual penyembuhan penyakit, ritual untuk membersihkan kampung dari berbagai kemungkinan petaka, atau berbagai keperluan lainnya. Balian juga menjadi perantara hubungan antara pihak yang memerlukan bantuan untuk diobati atau keperluan lainnya dengan roh-roh leluhur yang dipanggil dalam kaitannya dengan ritual tersebut, sehingga keperluan untuk ritual itu bisa berjalan sesuai harapan. Ritual yang dilakukan balian biasanya menggunakan media berupa tarian dan atau gerakan-gerakan serta bunyi-bunyian tetabuhan dan peralatan musik pengiring tarian yang dimainkan oleh para pemain musik dalam ritual tersebut. Karena itu, ritual tersebut sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Suku Dayak di wilayah pedalaman. Lebih-lebih untuk tetap menjaga keseimbangan alam dan berbagai pola kehidupan yang berlangsung di dunia fana ini. Balian juga menjadi bagian dari sebuah ritual dan bertindak sebagai pawang atau basir (perantara adat, Red) yang memiliki kemampuan untuk menjaga komunikasi dengan dunia leluhur sehingga keseimbangan dapat terus terjaga dan terbina langgeng. Keseimbangan antara kehidupan fana dan dunia para leluhur akan dapat terjaga manakala dua dunia yang berlainan itu dapat saling menjaga keseimbangan. Sejauh ini, manusia menjaga alam dan ritual leluhur dan leluhur pun akan menjaga keseimbangan alam tempat manusia hidup.
Description: D:\Kuliah\Semester 6\Teknik Presentasi\images (7).jpgUpacara Adat Mambatur Suku Dayak Halong

Biasanya, warga Dayak mengantar roh leluhurnya dengan perantaraan hewan kerbau. Hewan berkaki empat ini dibunuh dengan cara ditombak. Sepintas, acara ini serupa dengan acara adat Mambuntang atau Wara Nyalimbat di Tamiang Layang Kalteng. Selain di Halong dayak Warukin, Tabalong ada juga upacara kematian disebut Mia atau Mambatur, yaitu membuat tanda kubur dari kayu ulin. Ritual tersebut memiliki beberapa tingkatan, antara lain berdasarkan lamanya waktu dan pembiayaan. Upacara menguburkan satu hari disebut ngatang, yaitu membuat kubur satu tingkat. Dalam kaitan ini, ada tradisi siwah pada hari ke-40 setelah kematian. Pembuatan batur satu tingkat ini disebut juga wara atau mambatur kecil. Proses mambatur ada pula yang dijalankan selama lima hari disertai dengan pengorbanan kerbau dan pendirian balontang, yakni patung si warga yang meninggal. Prosesi itu biasanya dilaksanakan dengan mengundang semua warga.
Sebagai kelanjutan "mambatur" biasanya dilangsungkan mambuntang sebagai upacara terakhir. Kepala Adat Desa Warukin Rumbun mengatakan, aruh mambuntang yang sederhana disebut buntang pujamanta. Ritual ini hanya mengorbankan kambing, babi, dan ayam. Untuk ritual yang lebih “bergengsi”, buntang pujamea diwarnai dengan pengorbanan kerbau. Perbedaan antara mambatur dan balontang adalah dari segi mantra dan balian atau rohaniwan Kaharingan yang melaksanakannya. Perbedaan lain, patung balontang diarahkan ke barat sebagai simbol arah alam kematian, sedangkan pada mambuntang patung diarahkan ke timur sebagai simbol kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut